HIDUP
MULIA DENGAN MENJALANKAN SUNNAH ROSULULLOH SAW
Dari Ibnu Abbas ra. Bahwasanya Rosululloh bersabda: "Barangsiapa yang berpegang dengan sunnahku, ketika merata
kerusakan pada ummatku, maka baginya pahala seratus orang yang mati
syahid".
Dan Muslim pula meriwayatkan dari Anas ra. dari Rasulullah SAW katanya: Orang yang tidak suka kepada sunnahku,
bukanlah dia dari golonganku! Demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu
Asakir dari Ibnu Umar ra. cuma ada tambahan di permulaannya berbunyi:
Barangsiapa yang berpegang kepada sunnahku, maka dia dari golonganku.
Kemudian Daraquthni pula mengeluarkan sebuah Hadis dari Siti Aisyah r.a. dari
Nabi SAW katanya: Sesiapa yang berpegang kepada sunnahku akan memasuki syurga!
Dan dikeluarkan oleh As-Sajzi dari Anas ra. dari Nabi SAW katanya: Barangsiapa
yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mengasihiku, dan siapa yang
mengasihiku dia akan memasuki syurga bersama-sama aku!
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
(artinya): “Sesungguhnya telah ada pada
diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suri tauladan yang baik bagi
kalian (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)
Para
pembaca yang mulia, semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan
rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua. Sibuk dengan ritual keagamaan belum
menjadi jaminan seseorang telah shalih, alim, atau ahli ketaatan. Penampilan
seseorang dalam beragama hendaknya diukur sejauh mana dirinya menerapkan amal
shalih yang didasari keikhlasan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tanpa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan ini, maka
amaliah seseorang akan menjadi sia-sia. Ia akan mendapatkan kehampaan pahala
dan terseret ke arah amaliah yang jauh dari agama Islam itu sendiri.
Tentu
merupakan sebuah kewajiban setiap muslim untuk beramal dalam agama Islam ini
dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Beragama yang baik dan benar bukanlah dengan
dasar mengikuti amal perbuatan kebanyakan orang, bukan pula dengan mengikuti
semangat yang menggebu semata atau karena kagum dengan figur tokoh tertentu.
Akan tetapi menjalankan agama secara baik dan benar haruslah selaras dengan
landasan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan amaliahnya
(prakteknya) mengikuti apa yang telah dituntunkan oleh rasul-Nya.
Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul
dan Mengagungkannya
Mengagungkan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang besar dan
agung. Yang membutuhkan bukti dan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ironisnya keadaan pada saat ini justru terjadi sebaliknya, fenomena yang ada
pada sebagian kaum muslimin enggan menerima, mengabaikannya, bahkan
mengolok-oloknya. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya):
“Dan apa yang
diperintahkan Rasul kepada kalian maka lakukanlah sedang apa yang beliau larang
darinya maka tinggalkanlah.” (Al Hasyr: 7)
“Barangsiapa yang
menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.” (An Nisa’: 80)
“Dan tidaklah patut
bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah,
apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan
kesesatan yang nyata.” (Al Ahzab: 36)
Ketiga
ayat di atas menunjukkan secara tegas bagaimana semestinya sikap seorang muslim
menempatkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu wajib
mengambilnya. Hal ini merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi.
Kemudian menjadikan sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan
melakukan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Allah
subhanahu wa ta’ala menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai
penjelas Al-Qur’an bukan sekedar menyampaikan atau membacakannya secara lafazh
saja, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):
“Dan Kami turunkan
kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan
kepada mereka.”
(An Nahl: 44)
Demikian
pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku mewasiatkan bagi kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan
taat kepada pimpinan, walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak.
Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat
perbedaan yang banyak, maka di saat seperti itu wajib atas kalian bepegang
teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa’ Ar Rasyidin. Gigitlah dengan
gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) karena
sesungguhnya semua bid’ah itu sesat!” (Shahih, HR. Ahmad, Abu Dawud dan At
Tirmidzi dari hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan oleh
Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, no. 2549)(Sebagian ulama menafsirkan
bid’ah yang dimaksud adalah dalam hal ibadah maqdoh).
Barakah Mengikuti Sunnah Rasulul SAW.
Ketahuilah!
Siapa saja dari umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berupaya
untuk senantiasa mengikuti dan menaati beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
dengan ikhlas serta menjadikannya sebagai suri tauladan dalam kehidupan
sehari-hari, maka sungguh ia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang
dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wasallam di antaranya adalah sebagaimana keterangan berikut ini:
1.
Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW Merupakan Sebab
Diterimanya Suatu Amalan
Telah
kita ketahui bersama bahwa dua prinsip dasar yang harus selalu beriringan dalam
melandasi suatu amal agar diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah keikhlasan
dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya,
apabila hilang salah satu dari keduanya, maka amalan itu tidak akan diterima
oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan hendaknya kita khawatir suatu amal shalih
yang kita kerjakan akan ditolak atau tidak diterima oleh Allah subhanahu wa
ta’ala.
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beramal dengan suatu
amalan yang tidak pernah kami tuntunkan, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.
Muslim)
Dari
hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu keutamaan terbesar
dalam Ittiba’us Sunnah (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam) adalah diterimanya suatu amalan.
Al
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dalam mengikuti Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam terdapat keberkahan dalam mengikuti syari’at,
meraih keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan derajat, menentramkan
hati, menenangkan badan, membuat marah syaithan, dan berjalan di atas jalan
yang lurus.” (Dharuratul Ihtimam, hal. 43)
2.
Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW Membuahkan Persatuan
Kaum Muslimin
Saudaraku Para
pembaca yang mulia, setiap muslim tentu sangat merindukan terwujudnya persatuan
kaum muslimin. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, bahwa persatuan
merupakan perkara yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala, sedangkan perpecahan merupakan perkara yang dibenci dan dilarang
oleh-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan berpegang-teguhlah
kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(Ali Imran: 103)
Al
Imam Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah telah memerintahkan
kepada mereka (umat Islam, red) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan.
Di dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah
untuk bersatu dan berkumpul.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/367)
Adapun
asas bagi persatuan yang diridhoi dan diperintahkan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala bukan berasaskan kesukuan, organisasi, kelompok, daerah, partai, dan
sebagainya. Akan tetapi asasnya adalah: Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman As-Salafush Shalih (para shahabat
Rasulullah, para tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).
Al
Imam Al Qurthubi rahimahullah ketika menjelaskan ayat 103 surat Ali Imran di
atas menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan kepada kita agar
berpegang teguh dengan kitab-Nya (Al Qur’an) dan sunnah nabi-Nya, serta merujuk
kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Allah subhanahu wa ta’ala juga
memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam
hal keyakinan dan amalan. Hal ini agar kaum muslimin bersatu dan tidak
tercerai-berai, sehingga akan meraih kemaslahatan dunia dan agama, serta
selamat dari perselisihan. (Lihat Tafsir Al Qurthubi, 4/105)
Mengapa
harus dengan pemahaman As Salafus Shalih (para shahabat Rasulullah, para
tabi’in, dan tabi’ut tabi’in)?
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sebagaimana tidak ada generasi yang
lebih sempurna dari generasi para shahabat, maka tidak ada pula kelompok
setelah mereka yang lebih sempurna dari para pengikut mereka. Maka dari itu,
siapa saja yang lebih kuat dalam mengikuti hadits Rasulullah dan sunnahnya,
serta jejak para shahabat, maka ia lebih sempurna. Kelompok yang seperti ini
keadaannya, akan lebih utama dalam hal persatuan, petunjuk, berpegang teguh
dengan tali (agama) Allah, dan lebih terjauhkan dari perpecahan, perselisihan,
dan fitnah. Dan barangsiapa yang menyimpang jauh dari itu (Sunnah Rasulullah
dan jejak para sahabat), maka ia akan semakin jauh dari rahmat Allah dan
semakin terjerumus ke dalam fitnah.” (Minhajus Sunnah, 6/368)
3.
Pahala Besar Bagi Orang Yang Berpegang Teguh Dengan Sunnah Rasulullah SAW
Dari
shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran,
kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan
Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” Ada seseorang
yang bertanya: “Lima puluh dari mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab:
“Pahala lima puluh dari kalian.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi, lihat
Silsilah Ash Shahihah, no. 494)
4.
Jaminan Istiqomah dan Hidayah Bagi Orang Yang Berpegang Teguh dengan Sunnah
Rasulullah SAW
Selama
seseorang berada di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
ia akan tetap berada di atas jalan istiqomah. Sebaliknya, jika tidak demikian,
berarti ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.
Sebagaimana
yang dikatakan oleh shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu:
“Manusia akan senantiasa berada di atas jalan yang lurus selama mereka
mengikuti jejak Nabi.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 197).
Shahabat
‘Urwah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Mengikuti sunnah-sunnah Nabi adalah tonggak
penegak agama.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 198).
Salah
seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: “Dahulu mereka mengatakan:
selama seseorang berada di atas jejak Nabi, maka ia berada di atas jalan yang
lurus.” (HR. Al Baihaqi, Miftahul Jannah, no. 200)
Oleh
karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Dan jika kalian
menaatinya niscaya kalian akan mendapatkan hidayah.” (An Nur: 54)
Asy
Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata: “Jika kalian menaati
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk
ke jalan yang lurus, baik ucapan maupun perbuatan. Dan tidak ada jalan untuk
mendapatkan hidayah melainkan dengan menaatinya, dan tanpa (menaatinya) tidak
mungkin (akan mendapatkan hidayah) bahkan mustahil.” (Tafsir As Sa’di, hal.
521)
5.
Mendapatkan Cinta dari Allah SWT dan akan masuk Al Jannah
(surga)
Para
pembaca yang mulia, bukankah kita semua ingin mendapatkan cinta dari Allah?
Ketahuilah! Bahwa cinta dari Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan diperoleh
dengan mengikuti dan mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala (artinya):
“Katakanlah
(wahai Muhammad!): “Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku! Niscaya
Allah pasti akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (Ali Imran:
31)
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Setiap umatku akan masuk Al
Jannah (surga) kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya: “Siapakah
orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang
menaatiku, ia akan masuk Al Jannah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku,
maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Al Bukhari)
Wahai
saudaraku sesama muslim! Sepatutnya bagi kita semua selalu berupaya dengan
sungguh-sungguh untuk menyesuaikan segala amal ibadah kita dengan tuntunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdasarkan dalil-dalil shahih.
Dan kita tidak akan dapat mengetahuinya melainkan dengan belajar ilmu syar’i (agama).
Penutup
Saudaraku,
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita untuk senantiasa mempelajari
ilmu agama Islam ini yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan
pemahaman para shahabat nabi radhiyallahu ‘anhum di bawah bimbingan ulama`
pewaris Nabi. Dan memberikan kekuatan serta keistiqomahan dalam menjalankan
sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tergapai kemuliaan hidup
yang hakiki di dunia maupun akhirat...(dari berbagai sumber)
Amin
Ya Rabbal ‘Alamin